Perzinahan dan Pemulihan

Saya lahir dari hasil perzinahan. Ibu saya pernah memiliki dua suami, lalu ia melakukan kumpul kebo dengan ayah saya. Ayah saya juga memiliki isteri dengan dua putera, tapi ia berkumpul kebo dengan ibu saya. Ayah dan ibu memiliki tiga anak bersama, lalu ayah saya mengambil isteri lain dan memiliki empat anak. Ibu menambah kawan kumpul kebo barunya dengan melahirkan tiga anak lagi.

Setelah Perang Dunia Ke-II, banyak sekali rumah tangga yang hancur dan perzinahan meningkat tajam dan luar biasa. Moralitas dunia hancur karena perang yang menewaskan lebih dari 10 juta manusia dan mereka yang tidak ber-Tuhan hanya mau hidup untuk kepuasan diri dan kedagingannya. Tetapi itu di dalam dunia ‘kan? Tentu bukan di dalam Gereja!

Setelah saya menjadi seorang yang percaya kepada Yesus, saya sangat yakin bahwa gaya hidup orang Kristen tidak sama dengan dunia. Bukankah kita sudah menyalibkan manusia lama kita, saat kita dibaptis dan bangkit kembali bersama Yesus untuk berjalan di dalam hidup baru sebagai manusia ciptaan baru (2Kor.5:17)? Selama bertahun-tahun, saya terus menikmati persekutuan dalam jemaat dan tidak pernah mendengar bahwa ada keluarga orang percaya yang berzinah, apalagi cerai.

 

Namun tiga puluh lima tahun lalu, seorang pelayan yang terkenal di New York bernama David Wilkerson, menulis buku best-seller, “The Cross & the Switchblade.” Ia menulis isi nubuatannya di dalam buku itu bahwa para pelayan dan pemimpin Tubuh Kristus akan diserang oleh Iblis, dengan tiga jenis godaan sebagai tanda akhir zaman, yaitu, imoralitas, perebutan posisi kekuasaan dan ketamakan akan uang. Pada tahun 1980, ketiga serangan itu menjadi nyata dalam Gereja di seluruh dunia. Di Amerika, penginjil-penginjil TV terkenal di antaranya Jimmy Swaggart dan Jim Bakker jatuh dengan cara yang sangat memalukan. Di Australia, dalam satu Gereja besar ada lima pendeta yang jatuh ke dalam perzinahan. Dalam jemaat yang sama, satu pendeta menjadi homoseks dan ada satu PKS wanita yang menjadi lesbian, lalu ia menelan sembilan korban pemudi-pemudi dalam jaringannya. Ternyata benar seperti dikatakan Firman Tuhan, “sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan,”(1Kor.5:7).

Jemaat tersebut adalah jemaat Annette dan saya, dimana kami bersama penatua-penatua lain menangani proses penggembalaan, pembersihan dan pemulihan para korban. Kami harus menangani beberapa kasus yang sangat berat. Seorang PKS yang telah menjadi homoseks dapat mengalami kasih karunia Tuhan. Ia bertobat dan mengalami perubahan hidup sehingga dia dan keluarganya dapat dipulihkan kembali. Seorang kawan pelayan yang isterinya menjadi korban seorang pemimpin senior juga dipulihkan. Ia merupakan seorang pemudi yang dilecehkan oleh beberapa pemimpin lewat proses yang panjang telah, justru berubah dramatis selama beberapa tahun hingga sekarang. Setelah mengalami proses 23 tahun, pemudi itu menikah dan dikaruniai beberapa anak yang baik dan suami yang sangat menolong dia dalam proses pemulihan.

Sayang sekali ada juga yang mengeraskan hatinya dengan menolak kasih karunia dan proses pemulihan. Ada satu pendeta yang pada waktu akan dihentikan dari pelayanan malah membantah dengan berkata, “Kalau sudah berpikir di hati ‘kan sama saja, artinya ia sudah berzinah (Mat.5:28). Tentu kalian pernah berpikir di hatimu juga! Jadi, bagaimana kalian bisa menghakimi saya?” Seorang hamba Tuhan senior menjawab dengan bijak, “Tidak pernah ada orang sakit kelamin cuma karena berpikir. Berpikir tidak mempunyai dampak yang sama pada orang lain jika dibandingkan yang melakukannya. Yang melakukannya bukan hanya berdosa kepada Tuhan, tetapi juga berdosa kepada isterinya dan juga kepada suami pasangan zinahnya.” Sungguh itu adalah masa yang sangat sukar yang kami harus lalui.

Di Indonesia saja saya sudah berhadapan dengan berbagai kasus yang menimpa hamba-hamba Tuhan, bahkan ada empat yang saya sudah kenal dengan sangat dekat. Ada yang hanya jatuh sekali saja, tapi segera sadar dan bertobat, mengaku dan dipulihkan. Ada yang kedapatan sehingga dipecat. Ia direhabilitasi, tapi kemudian ia jatuh lagi, bahkan terjadi sampai empat kali sehingga dia, isterinya, anak-anaknya dan karunia pelayanannya menjadi hancur. Ada lain yang menjadikan imoralitas sebagai gaya hidup dalam masa yang panjang, tapi kemudian ia bertobat dan keluarganya dipulihkan kembali.

Apakah saudara memiliki sahabat atau keluarga atau saudara mengenal pelayan-pelayan yang jatuh ke dalam perzinahan? Apakah perzinahan itu adalah dosa yang tidak terampuni? Sejauh mana orang-orang itu, dan khususnya para pelayan yang jatuh, dapat dipulihkan?

Kasus Korintus dalam 1Korintus.5:1-6
“Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku--sama seperti aku hadir--telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?”

Kasus yang sangat memalukan terjadi di Korintus ditangani oleh Rasul Paulus dengan sangat tegas. Bukan saja orang tersebut dikucilkan dari persekutuan jemaat saja, tetapi juga dia diserahkan kepada Iblis agar tubuhnya binasa. Apakah ini kasih Allah? Apakah penghakiman itu terlalu kejam dan drastis? Sama sekali tidak! Tindakan Paulus ini adalah demi melindungi jemaat dari ragi yang dapat mengkhamiri seluruh jemaat, sekaligus sebagai usaha agar orang itu bertobat dan selamat.

Setelah beberapa tahun berlalu, ternyata bahwa orang itu sudah bertobat. Namun kita tidak tahu siksaan apa yang dialaminya ataupun proses yang telah berlangsung. Tetapi yang jelas adalah bahwa ia sudah bertobat, namun jemaat Korintus tetap tidak mau menerima dia kembali. Mungkin mereka beranggapan bahwa perzinahan tidak dapat diampuni, namun hal itu tidak benar. Maria Magdalena juga diampuni dari perzinahan. Sebab ia adalah perempuan yang hendak dirajam dengan batu ketika dibawa kepada Yesus dalam kisah (Luk.7:37-47;Yoh.8:4). Anggota jemaat Korintus yang berzinah itupun harus diampuni.

Rasul Paulus dalam 2Korintus 2:6-11, mendorong jemaat agar orang itu diampuni dan diterima kembali ke dalam jemaat, sehingga Iblis jangan mengambil keuntungan.
“Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, seandainya ada yang harus kuampuni, maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.”

Prinsip Kasih
Sering kali saya mendengar orang berkata bahwa kasih menutupi segala dosa, seolah-olah kita harus menutup-nutupi dosa kalau kita mengasihi orang itu. Faham itu keliru sekali. Karena justru Firman Tuhan menyatakan bahwa dosa akan diekspos. Kalau kita berdosa secara tersembunyi, maka dosa itu akan dibongkar dan diberitakan dari atap rumah (Lk.12:1-3). Kalau seorang penatua terbukti berdosa, teguran terhadap dosanya harus umum (1Tim.5:19-20). Jadi, apa artinya kasih menutupi banyak dosa? Bukankah itu ditulis demikian dalam Firman Tuhan?

Benar sekali, tetapi konteks kasih menutupi segala dosa adalah bila orang yang berdosa itu sudah sungguh-sungguh bertobat, maka kasih Kristus akan menutupi segala dosa, baik dari yang diekspos kalau belum diketahui, atau lewat pengampunan bagi mereka yang dosa-dosanya sudah diketahui secara umum. Lihat nasihat Rasul Yakobus dan Rasul Petrus:
Yak.5:20, “Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.”
1Pet.4:8, “Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”

Proses mengumumkan dosa dan memberi teguran secara umum telah dijelaskan oleh Yesus:
Langkah ke-1: Ketemu pribadi dengan orang itu dan berusaha membawanya kepada kesadaran dan pertobatan. Kalau dia sadar dan bertobat, maka kasih menutupi dosanya.
Langkah ke-2: Kalau dia tidak bertobat, bawalah beberapa saksi untuk lebih meyakinkan dia dengan harapan bahwa ia sadar, bertobat lalu kasih akan menutupi segala dosa.
Langkah ke-3: Kalau orang berdosa itu tetap mengeraskan hatinya dan tidak mau bertobat, maka oleh kasih Kristus ia harus ditegur di hadapan seluruh jemaat. Tujuannya supaya jemaat terlindung dari dosanya dan juga supaya dengan tindakan drastis ini, diharapkan pada akhirnya ia menjadi sadar dan bertobat suapay kasih dapat menutupi segala dosanya.

Rasul Yohanes berkata dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Lewat pertobatan, pengampunan dan pemulihan, kita menjadi bersih di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, kasih Kristus dalam kita harus menbutupi segala dosa. Yesus berkata: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (Mat.15-17)

Proses Pemulihan
Jika seorang sudah jatuh ke dalam dosa sekali, lalu sadar dan bertobat adalah jauh lebih mudah untuk mengurusnya. Tentu tidak mudah, hanya lebih mudah, karena kalau dosa sudah menjadi gaya hidup selama bertahun-tahun, maka prosesnya jauh lebih sulit dan harus ada buah pertobatan yang nyata dan terbukti. Suatu contoh yang indah tentang sikap orang yang sungguh bertobat dari kejatuhan dan dosa yang menjadi gaya hidupnya adalah kisah tentang anak yang terhilang dalam Lk.15:11-32.
Sikap anak yang terhilang itu, setelah bertobat, sungguh ia menunjukkan proses yang indah dan benar, sehingga kita perlu mengetahui langkah-langkah pemulihannya. Mari kita membaca Lukas.5:17-21,
“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.”

Perhatikan dengan teliti proses yang diceritakan oleh Yesus:
1.Anak yang terhilang itu menjadi sadar dan merenungkan keadaannya.
2.Dia percaya akan kasih bapanya, namun dia tidak merasa layak untuk kembali ke rumah bapanya dalam keadaan atau status semula.
3.Dia memutuskan untuk kembali ke rumah bapanya, tempat dimana dia tinggalkan sebelum dia terjun ke dalam dunia yang berdosa.
4.Dalam keadaan remuk hati dan membuat pengakuan dosanya kepada Bapa di sorga dan terhadap bapa di rumahnya.
5.Dia merendahkan diri dengan tidak mau lagi disebut sebagai anak bapanya dan bersedia menjadi seorang upahan saja.

Sikap ini menunjukkan sikap yang diperlukan dalam setiap orang yang mau bertobat. Hanya sikap seperti ini yang akan menyenangkan hati Allah. Pada waktu bapa dari anak yang terhilang itu melihat anaknya kembali dengan sikap seperti itu, dia menerimanya tanpa syarat, dan dengan sukacita yang besar. Inilah sikap kasih yang harus ada juga pada kita. Ini merupakan kuasa pertobatan yang sungguh-sungguh, kuasa kasih yang sungguh-sungguh dan kuasa pengampunan yang sungguh-sungguh yang akan menolong proses pemulihan dengan sepenuhnya.

Bagaimana pemulihan pelayan-pelayan yang jatuh?
Walaupun kita percaya dalam pemulihan yang sempurna, namun ada standar-standar yang menuntut hikmat Tuhan, baik dalam waktunya maupun dalam bidang pelayanan. Setiap dosa ada konsekwensinya. Pengampunan tidak berarti bahwa orang-orang itu boleh kembali melayani dalam posisi yang sama seperti semula. Kita harus waspada terhadap titik kelemahan yang menjadi pemicu kejatuhan seseorang, agar jangan orang itu diletakkan kembali di dalam posisi yang semula di mana dia kalah terhadap godaan.

Ada kasus yang sangat saya kenal. Ada seorang yang bertugas dalam pelayanan anak-anak yang melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Lalu ia ditangkap, diadili dan akhirnya dipenjarakan. Di penjara, dia diberi konseling sampai dia sungguh-sungguh bertobat. Setelah beberapa tahun, ia dilepaskan dari penjara dan kembali ke jemaat. Di situ dia mengaku dosanya dan mohon diampuni. Apakah kita ampuni? Pasti! Harus! Inilah inti Injil. Apa kita izinkan dia layani anak-anak lagi? Tentu tidak!

Kasus lain lagi yang saya kenal, yakni seorang pendeta jemaat di USA, di mana ada sebuah kasus pencurian. Bendahara jemaat berhasil mencuri lebih dari sejuta dolar. Setelah dilaporkan ke kantor polisi dan dilacak oleh polisi, ternyata si pencuri itu sudah memiliki latar belakang sejarah yang sama yakni ia melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Sampai sekarang bendahara itu belum ditemukan. Seandainya dia ditemukan, diadili dan dipenjarakan, lalu ia bertobat dan kembali ke jemaat. Apakah kita mau mengangkat dia kembali menjadi bendahara lagi dalam jemaat? Tentu tidak!

Justru inilah tindakan kasih terhadap orang yang jatuh itu. Dia mungkin menganggap dirinya sudah pulih dan tidak mungkin jatuh lagi, namun kita harus bertanggung-jawab atas kesehatan seluruh jemaat dan juga bertanggung-jawab atas kesehatan jiwa orang tersebut. Kita harus melihat buah-buah yang berpadanan dengan pertobatan dan karakter yang benar-benar mencerminkan kerendahan hati, penundukkan diri pada para pemimpin dengan tidak menuntut hak untuk dirinya sendiri. Kalau pelayan-pelayan yang bertobat dan dipulihkan demikian, maka pasti akan ada bidang-bidang pelayanan yang tersedia bagi dia yang tidak mengekspos orang itu kembali kepada keadaan yang membahayakan jiwanya dan juga bagi jemaat.
Selain sikap yang benar dari orang yang sudah bertobat, harus juga ada sikap yang benar di hati jemaat, untuk menerima dan memulihkan orang-orang itu. Tujuannya adalah bahwa mereka akan dibantu dengan penemanan dan pemuridan, agar masalah yang lama tidak terulang lagi.

Bagaimana kita tahu seorang sudah sungguh bertobat? – Ef.4:22-32
Salah satu cara untuk kita mengetahui seorang sudah bertobat adalah kesediaan, bahkan keinginannya untuk dimuridkan kembali. Penolakan untuk dimuridkan kembali adalah salah satu sikap kesombongan. Dan kesombongan seringkali adalah sifat yang paling sulit diatasi. Cara lain untuk kita mengetahui pertobatan yang benar adalah perubahan total dalam hidupnya. Kalau seorang pencuri bertobat, bagaimana kita tahu? Apakah karena dia berhenti mencuri? Tidak! Kita tahu dia sudah bertobat, karena dia sudah berhenti mencuri dan sekarang bekerja keras dengan tangannya sendiri, agar dia dapat memberikan kepada orang-orang lain. Daripada mengambil dari orang lain untuk diri sendiri, sekarang ia memberi dari hasil kerja tangannya sendiri kepada orang-orang yang lain.

Yang kita harus mengerti adalah Tuhan mengutamakan orangnya, dan bukan pelayanan yang dilakukannya. Sudah sering kita terlalu cepat mengorbitkan orang yang sudah mengalami pemulihan untuk terjun ke dalam pelayanan, sehingga pemulihan orangnya tidak berdiri di atas fondasi yang kuat. Orang tersebutlah yang harus kita perhatikan dan pedulikan. Soal tentang pelayanannya adalah soal kedua. Rasul Paulus bertanya: “Lembukah yang Allah perhatikan? Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis”, (1Kor.9:9-10). Inilah prinsip yang kita harus pakai. Prioritas kita selalu adalah orang-orangnya, karena itu merupakan prioritas Allah.

Marilah saudara-saudara, biarlah kita memahami kasih Kristus dan mempraktekkannya, agar supaya kuasa pengampunan boleh menjangkau setiap orang yang mencari pemulihan dari kejatuhannya. Dengan demikian kita akan bersama-sama bersukaria atas kemenangan saudara-saudara kita. (DR. Jeff Hammond)

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing