God's Perspective

Pada suatu hari, seorang dosen membagi kelasnya menjadi 2 kelompok. Lalu, ia menampilkan sebuah foto dan meminta mereka untuk menjelaskan apa yang mereka lihat. Kelompok pertama menjelaskan bahwa mereka melihat foto seorang wanita muda cantik yang mengenakan aksesoris dan baju yang indah, bahkan ada yang mau menikahi wanita itu karena cantik dan berasal dari kaum berada. Kelompok yang kedua tampak bingung, “Bagaimana mungkin ada mau menikahi wanita tua yang ada di foto itu?” Perdebatan dimulai karena masing-masing kelompok melihat apa yang tampak di foto yang sama. Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin 1 foto memberikan pendapat berbeda? Kelompok 1 melihat seorang wanita muda dan kelompok lainnya melihat wanita tua? Perbedaan pendapat yang cukup menimbulkan perdebatan. Apa yang berbeda? Perbedaan itulah yang disebut perspektif.

Kamus merriem webster menjelaskan perspektif sebagai “cara melihat atau berpikir tentang sesuatu hal.” Bagaimana kita melihat atau berpikir tentang sesuatu menentukan apa pendapat kita tentang hal itu. Karena itu, dalam cerita di atas cara melihat yang berbeda melahirkan 2 pendapat yang sangat berbeda. Taruhlah apa yang kita bahas di atas ke dalam hidup kita. Bukankah seringkali kita menemukan bahwa cara kita berpikirlah yang akhirnya menentukan keputusan-keputusan yang kita ambil?

Edwin Lois Cole berkata,
“Barang siapa menabur pikiran, menuai perkataan” ; “Barang siapa menabur perkataan, menuai tindakan”
“Barang siapa menabur tindakan, menuai kebiasaan” ; “Barang siapa menabur kebiasaan, menuai karakter”
Dan “ Barang siapa menabur karakter, menuai masa depan”

Karena itu, mari kita menyadari betapa pentingnya cara kita melihat atau berpikir. Yang lebih penting adalah kita menyadari perspektif siapa yang kita gunakan. Cara melihat atau berpikir siapa yang kita gunakan dalam menilai hidup kita. Raja paling berhikmat yang pernah ada memberikan nasehat yang luar biasa dalam Amsal 3:5-6, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salomo berkata bahwa kita harus menaruh kepercayaan kita kepada Tuhan dan bukan kepada pengertian kita sendiri. Dengan hikmatnya yang luar biasa, Salomo menasehati kita untuk tidak menggunakan perspektif kita dalam menilai hidup kita, melainkan menggunakan perspektif Allah! Kita perlu berpindah dari perspektif kita kepada perspektif Allah. Dari cara berpikir kita kepada cara berpikir Allah. Mengapa? Salomo berkata, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir,“(Pengkhotbah 3:11). Salomo mengaku, bahwa tidak seorang pun bisa menyelami apa yang dikerjakan oleh Allah. Kita adalah ciptaan Tuhan sehingga kita tidak mampu untuk menyelami pikiran Tuhan. Maukah kita melihat segalanya dari perspektif Allah?

Bagaimana kita bisa hidup dalam nasihat ini? Bagaimana kita memegang perspektif Allah dalam segala hal yang kita lakukan? Salomo berkata bahwa kita harus percaya. Hal ini bukan sekedar percaya, tetapi percaya dengan segenap hati kita. Memang tidak mudah bagi kita untuk percaya, karena kita hidup pada masa dimana kita dilatih untuk mempertanyakan segala sesuatu sebelum mempercayainya sebagai hal yang benar. Dalam taraf tertentu, hal ini baik, tapi jika kita mempertanyakan segalanya, termasuk kita mempertanyakan Tuhan, maka hal ini benar-benar menjadi masalah bagi hidup kita.

Rasul Tomas memiliki kenderungan ini untuk mempertanyakan Tuhan. Kita membaca hal ini dalam Yohanes 20:24-29, di mana Tomas tidak hadir ketika Yesus menampakkan diri pada para murid setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Karena Tomas tidak hadir, maka ia tidak percaya bahwa Kristus telah bangkit. Tapi, setelah Yesus menampakkan diri kepada Tomas, barulah ia percaya. Tomas mau melihat bukti bahwa Yesus hidup, bernafas dan menunjukkan tanda penyaliban dalam tubuh-Nya. Memang Yesus tidak marah, tetapi Yesus menemuinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Akhirnya, Tomas menjadi Rasul misionaris yang penuh iman ke daerah-daerah dekat Irak modern, bahkan sampai ke India. Hari ini kita tidak bisa melihat Yesus secara fisik seperti Tomas, tetapi kita percaya bahwa Yesus hidup. Kita tidak mau melihat baru percaya, tetapi tetap percaya meskipun tidak melihat. Yesus berkata pada Tomas, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya," (Yoh 24:29).

Jadi, untuk menjalani kehidupan kita setiap hari, kita perlu harus percaya sebelum kita melihat. Misalnya: Kita ingin naik pesawat, maka kita perlu melangkah dengan iman untuk naik dan masuk ke dalam pesawat. Kita tidak tahu apakah pesawat akan terbang atau pilot benar-benar tahu apa yang dia lakukan. Namun kita percaya kepada kesaksian maskapai penerbangan bahwa perjalanan dengan pesawat adalah transportasi paling aman. Ini benar-benar membutuhkan iman untuk kita menaiki pesawat. Begitu pula ketika makan di restoran, kita tidak pergi ke dapur dan melakukan tes kimia untuk melihat apakah makanan tesebut terkontaminasi atau teracuni. Kita percaya kepada kesaksian yang diberikan tentang restoran tersebut. Sampai kita mengambil gigitan pertama barulah kita benar-benar tahu bahwa itu adalah makanan yang baik. Setelah makan, barulah kita menemukan kebenaran bahwa tubuh kita sudah terkontaminasi atau tidak. Percaya dulu baru melihat.

Kita membutuhkan iman untuk memiliki perspektif Allah di dalam hidup kita. Jadi, Paulus menulis bahwa, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia,”(Ibrani 11:6). Iman adalah faktor terpenting bagi kita jika kita ingin melihat segalanya dari perspektif Allah. Itulah sebabnya Paulus memberikan penjelasan lain, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,”(Galatia 2:20). Perhatikan bagaimana Paulus menegaskan bahwa dia hidup oleh iman dalam Anak Allah.

Dalam menjalani proses sekolah kehidupan, ada waktu-waktu tertentu di dalam hidup Paulus yang dipenuhi keraguan dan ketidakpastian, namun ia tetap menaruh imannya dalam Yesus. Ada sebuah analogi baik yang membantu kita untuk memahami hal ini, yang diambil dari seorang Blondin - pemain akrobat terkenal yang hidup pada abad ke-19. Ia menggendong seseorang di punggungnya sambil menyeberangi Air Terjun Niagara (Niagara Fall) di atas sebuah tali. Di lain waktu, dia menyeberangkan seseorang di dalam sebuah gerobak.

Silakan lihat gambar di sebelah kiri. Orang yang di punggungnya tidak hanya berpikir bahwa Blondin adalah pemain akrobat hebat. Ia tidak hanya percaya bahwa Blondin bisa berjalan menyeberangi Air Terjun Niagara di atas tali. Ia mempunyai keberanian untuk menempatkan hidupnya di tangan (dan kaki) Blondin. Saya yakin bahwa ia pasti memiliki keraguan dan beberapa pertanyaan, bahkan ketakutan sepanjang jalan! Namun, dia masih mengandalkan Blondin untuk menyelamatkannya. Demikian pula kita, ketika kita memiliki keraguan dan pertanyaan dalam hati kita, namun kita masih bisa mengandalkan Tuhan Yesus. Hari ini taruhlah imanmu ke dalam Pribadi-Nya.

Apa yang Anda lihat dan pikirkan hari ini? Apakah hidup yang penuh ketidakjelasan, keraguan dan pertanyaan? Ikutilah nasihat Salomo untuk tetap percaya pada Tuhan dengan segenap hati dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri. Ikutilah teladan Paulus untuk menaruh iman di dalam Yesus. Berhenti melihat dan berpikir dengan cara kita, tapi mulailah melihat hidup dalam perspektif Allah. Tuhan berfirman melalui nabi Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan,” (Yeremia 29:11). Allah memiliki rencana yang luar biasa bagi diri kita. Namun bagian kita adalah mempercayai Tuhan. Ketika hal baik atau hal buruk terjadi dalam hidup kita, maukah kita mempercayai Tuhan? Maukah kita melihat dengan perspektif Tuhan? Jika kita mau, maka apapun yang terjadi di dalam hidup kita, kita tetap percaya bahwa semuanya adalah proses dari rencana yang besar Tuhan. Tuhan belum selesai dengan kita. Ia setia dan akan tetap meneruskan apa yang telah Ia mulai dalam hidup kita sampai kesudahannya.

  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing
  • Metanoia Publishing